Altarnews.com—LAMPUNG SELATAN—Aroma dugaan permainan mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Kabupaten Lampung Selatan semakin menyengat.
Praktik yang diduga berlangsung terang-terangan di SPBU 24.353.57 Kali Asin, Kecamatan Tanjung Bintang kini memantik kemarahan masyarakat. Warga menilai negara telah dipermainkan, sementara rakyat kecil dipaksa antre dan pulang dengan tangan kosong.
Di balik dugaan permainan distribusi Solar dan Pertalite subsidi itu, warga secara terbuka menyebut nama Tugiman, sosok yang disebut sebagai penanggung jawab sekaligus pengawas SPBU.
Ia dituding mengetahui bahkan diduga membiarkan aktivitas pengecoran BBM subsidi berlangsung nyaris tanpa hambatan.
Lokasi SPBU yang berada di jalur strategis dekat akses Tol Lematang serta penghubung Bandar Lampung–Lampung Timur disebut menjadi “surga” bagi para pelangsir dan mafia BBM.
Hampir setiap hari, kendaraan modifikasi diduga keluar masuk melakukan pengisian berulang kali, sementara masyarakat umum justru kesulitan mendapatkan jatah BBM subsidi.
“Kalau ini dibiarkan terus, sama saja negara kalah dengan mafia BBM. Aktivitasnya terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi lagi. Nama Tugiman disebut warga karena diduga menjadi orang yang paling mengetahui permainan ini,” ujar AP, warga Tanjung Bintang, Jumat (22/05/2026).
Menurut AP, masyarakat selama ini hanya bisa menahan kesal melihat antrean panjang kendaraan pelangsir yang diduga bebas menguras stok Solar dan Pertalite subsidi.
Ironisnya, kendaraan masyarakat biasa justru sering ditolak dengan alasan BBM habis.
“Kami ini rakyat kecil yang benar-benar butuh. Mau kerja, mau cari makan, harus antre berjam-jam. Tapi kendaraan pengecor bisa bolak-balik isi minyak berkali-kali tanpa hambatan. Ini jelas melukai rasa keadilan masyarakat,” katanya.
Warga menduga praktik tersebut bukan lagi permainan eceran, melainkan sudah terorganisir rapi. Modus yang digunakan pun disebut semakin berani.
Satu barcode diduga bisa dipakai berkali-kali untuk mengisi BBM subsidi. Bahkan dalam satu kesempatan, kendaraan tertentu disebut dapat melakukan pengisian hingga sepuluh kali.
“Bagaimana mungkin barcode bisa dipakai berulang kalau tidak ada orang dalam yang bermain? Ini bukan kerja satu dua orang. Kami menduga ada persekongkolan antara pengawas, operator, dan para pelangsir,” tegas AP.
Tak sekadar berbicara, warga mengaku telah mengantongi bukti berupa foto dan rekaman video aktivitas pengecoran di SPBU tersebut.
Bukti itu disebut akan segera diserahkan ke BPH Migas dan Polda Lampung agar aparat tidak tutup mata terhadap praktik yang diduga merugikan negara dan masyarakat.
“Kami sudah kumpulkan bukti. Ada rekaman kendaraan antre malam hari, ada aktivitas pengisian berulang, semua ada. Jangan sampai aparat kalah cepat dengan mafia BBM,” ujarnya.
Warga menyebut aktivitas dugaan penimbunan biasanya mulai ramai di Pagi hari dan sore menjelang Maghrib. Puluhan kendaraan modifikasi seperti truk Fuso, L300 hingga Mitsubishi Kuda diduga berbaris memenuhi sisi jalan SPBU.
BBM subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil diduga langsung dialihkan ke jaringan pasar gelap untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
“Ini sudah seperti bisnis haram yang berjalan rutin tiap malam. Kendaraan modifikasi bebas keluar masuk seolah tidak tersentuh hukum. Kalau pengawas mengaku tidak tahu, masyarakat jelas sulit percaya,” katanya.
Kemarahan masyarakat kini memuncak. Mereka mendesak Polda Lampung turun tangan dan tidak berhenti pada penindakan sopir atau pelangsir lapangan saja. Warga meminta aparat membongkar dugaan aktor utama di balik permainan BBM subsidi tersebut.
“Jangan cuma tangkap orang kecil di lapangan. Bongkar siapa yang melindungi dan menikmati uangnya. Kalau memang Sugiman terbukti terlibat atau menerima setoran, pecat dan proses hukum,” tegas AP.
Tak hanya itu, warga juga meminta BPH Migas mencabut izin operasional SPBU apabila terbukti terjadi pembiaran sistematis terhadap praktik penyalahgunaan BBM subsidi.
“Kalau benar ada kerja sama dan pembiaran, cabut izinnya. Subsidi negara bukan untuk diperdagangkan oleh mafia. Ini uang rakyat, bukan ladang bancakan,” ujarnya lagi.
Warga bahkan mencurigai adanya gudang penampungan sementara di sekitar lokasi SPBU yang diduga menjadi tempat transit hasil pengecoran sebelum disalurkan kembali ke pasar gelap.
“Masyarakat tahu ada dugaan gudang penampungan di seberang jalan. Artinya praktik ini diduga sudah berjalan lama dan terstruktur. Aparat jangan pura-pura tidak melihat,” tandasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Sugiman selaku penanggung jawab SPBU masih dalam tahap konfirmasi oleh redaksi guna memperoleh hak jawab dan menjaga prinsip keberimbangan pemberitaan sesuai kode etik jurnalistik.(*)






