Kasus Dugaan Pelecehan Siswi SD, Sekolah Dinilai Lalai dan Cenderung Tutup Mata

Altarnews.com—BANDAR LAMPUNG—Sekolah adalah tempat ternyaman dan terbaik buat siswa siswi untuk menimba ilmu untuk masa depan yang lebih cerah, bukan menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa siswi Sekolah Dasar, apalagi sekolah tersebut sekolah favorit di Bandar Lampung.

Tapi semuanya berubah mencekam, Aroma kelalaian yang menyelimuti dunia pendidikan.Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak, justru berubah menjadi lokasi dugaan pelecehan yang mengoyak rasa percaya.

Seorang oknum satpam berinisial H yang bertugas di salah satu sekolah dasar diduga menjadi pelaku. Dengan modus yang terbilang licik, ia mendekati korban seorang siswi di bawah umur dengan dalih perhatian.

Pelaku berpura-pura memeluk, namun di balik itu, terselip tindakan yang diduga mengarah pada pelecehan. Trauma pun tak terhindarkan. Korban akhirnya berani bersuara kepada orang tuanya, memecah sunyi yang selama ini menutupi kejadian tersebut.

Lebih mengkhawatirkan, pelaku disebut kerap mengantar korban pulang sekolah. Situasi yang seharusnya berada dalam pengawasan ketat, justru diduga menjadi celah bagi aksi menyimpang. Pertanyaan besar pun muncul: ke mana pengawasan sekolah saat itu?

Kasus ini kemudian dilaporkan oleh orang tua korban ke pihak sekolah. Kepala sekolah mengakui adanya laporan tersebut dan membenarkan bahwa telah dilakukan pertemuan antara pihak korban dan pelaku.

“Kami menerima laporan dari orang tua korban. Keduanya sudah kami pertemukan di ruangan saya,” ujar kepala sekolah.

Namun, alih-alih mengambil langkah tegas, pihak sekolah justru dinilai memilih jalan lunak. Oknum satpam tersebut hanya diberi ruang untuk mengundurkan diri tanpa transparansi sanksi, tanpa kejelasan tanggung jawab institusi.

“Orang tua korban menyampaikan bahwa tidak pantas oknum itu berada di sini. Kami memberikan kesempatan untuk mengundurkan diri,” katanya.

Sikap ini memantik kritik keras. Di tengah dugaan pelecehan terhadap anak, pendekatan “damai” justru dikedepankan. Kepala sekolah bahkan menyebut harapan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami berharap bisa diselesaikan baik-baik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut terdengar kontras dengan beratnya dugaan pelanggaran yang terjadi. Dalam kasus yang menyangkut keselamatan anak, kompromi bukanlah jawaban.

Pihak sekolah juga mengungkap bahwa kasus ini telah dilaporkan ke Polresta Bandar Lampung oleh keluarga korban. Namun, mereka mengaku tidak mengetahui perkembangan penanganannya.

“Sudah dilaporkan, tapi kami belum tahu sampai di mana prosesnya,” tambahnya.

Kasus ini kini menjadi sorotan tajam. Bukan hanya soal dugaan perbuatan individu, tetapi juga kegagalan sistem pengawasan. Bagaimana mungkin seorang petugas keamanan yang seharusnya melindungi justru diduga menjadi ancaman? Dan lebih jauh lagi, bagaimana sekolah bisa kecolongan?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *